Semua kita, yang berlebel manusia pasti pernah mengalami rasa jenuh dan bosan. Bosan dan jenuh, disebabkan oleh banyak faktor. Ada yang jenuh karena aktivitas sehari-hari, yang seperti itu-itu saja. Ada pula yang bosan dan jenuh dikarenakan oleh hasil yang didapat dari usaha yang tidak pernah berubah.
Begitu juga dalam dunia tulis-menulis dan garang-mengarang. Adakalanya juga terjadi kejenuhan dan kebosanan, apalagi dunia tulis menulis kegiatan yang menguras otak dan energi.
Namun demikian, bagi sebagian orang. Dunia tulis-menulis, karang-mengarang adalah minat dan profesi. Dan tidak semua orang bisa menyatukan diri dengan dunia tulis-menulis, garang-mengarang. Faktanya memang demikian.
Coba kita baca rubrik opini surat kabar, majalah, buletin, atau blog online atau apalah namanya. Adakanya, tulisan seorang profesor, doktor, magister bisa bersangding dengan tulisan seorang mahasiswa bahkan seorang pelajar tingkat SLTA.
Banyak orang menyebutkan bahwa dunia tulis-menulis atau garang-mengarang adalah dunia yang unik. Dunia ini tidak terikat oleh tahta, gelar, ijazah dan lain sebagainya. Dunia tulis-menulis, garang-megarang hanya terikat pada mutu dan hasil.
Siapa saja, bila sudah terpaut hati dan cinta pada dunia tulis-menulis, garang-mengarang. Akan susah menceraikannya. Dan cintanya, tidak terbatas oleh usia. Selama otak masih bisa berfikir, mata masih bisa membaca, tangan masih bisa bergerak maka selamanya seseorang penulis bisa berkarya.
"Hanya dua orang yang bisa menghentikan dunia penulisan, yaitu Tuhan dan dirinya".
Kembali kepada judul kita. "Ketika, Penulis Jenuh dan Bosan Menulis"..
Pada dasarnya kejenuhan dan bosan adalah momen yang pasti akan dilalui oleh setia manusia. Baik itu kejenuhan dalam bekerja, belajar, bekerja, dan aktivitas-aktivitas lainnya.
Kejenuhan dan bosan juga sering menimpa seorang blogger. Lebih-lebih jika tulisan yang dibaca, entah itu dari media online maupun cetak, bobotnya jauh lebih dahsyat dan tajam analisis seorang blogger.
Situasi seperti itu seringkali menimpa saya, sebagai blogger pemula. Pada saat-saat tertentu, saya benar-benar berada di titik kulminasi kejenuhan dan kebosanan. Biarpun ada ide, tapi saya tidak tahu tulisan macam apa yang mesti saya angkat menjadi sebuah postingan menarik dan layak untuk dibaca.
Sehingga blog gampong kita, yang sedang Anda baca ini tidak banyak postingan orisinir menarik. Kecuali, beberapa postingan saja yang saya kutip dari media lain. "Inilah ujung dari kejenuhan dan kebosanan".
Apalagi untuk meng-update postingan orisinir di blog, jelas berbeda dengan meng-update status di sebuah jejaring sosial seperti di google+, facebook, twitter, dan jejaring sosial lainnya. Karena postingan di blog seringkali membutuhkan kedalaman analisis, kepekaan intuitif, bahkan juga sentuhan kreativitas dan imajinasi sesuai dengan tema postingan yang diangkat kedunia maya.
Posting blog, sungguh berbeda ketika seseorang meng-update status di jejaring sosial. Di jejaring sosial, tidak harus melalui proses yang terlalu rumit dan panjang. Ketika seseorang sedang buang taik, baru bangun tidur, sambil menguap, sambil makan sudah cukup waktu bagi seseorang untuk mengetikkan beberapa pesan untuk dibagi kemuka akun jejaring sosialnya.
Karena kemudahan dalam meng-update status, banyak orang ingin berlomba-lomba memamerkan statusnya di jejaring sosial. Bahkan, blogger yang notabene sudah memiliki “jam terbang” cukup lumayan akhirnya bisa tenggelam kedalam wabah jejaring sosial ketika berada di titik kejenuhan dan kebosanan.
Namun, buat blogger amatiran seperti saya, “penyakit” semacam itu seringkali datang tak terduga. Saya pernah diajarkan orang, bahwa setiap masalah ada solusinya. Teruslah berjuang, dan jangan galau.....
Pesan guru saya, jika kamu memiliki bakat menulis, menulislah sampai tiba datangnya Malaikat Izrail dan berhentinya aktivitas dunia, ketika Malaikat Israfil meniupkan sangkakala.
Jampok ke-7 "Jangan Tergoda Keputusasaan"
Begitu juga dalam dunia tulis-menulis dan garang-mengarang. Adakalanya juga terjadi kejenuhan dan kebosanan, apalagi dunia tulis menulis kegiatan yang menguras otak dan energi.
Namun demikian, bagi sebagian orang. Dunia tulis-menulis, karang-mengarang adalah minat dan profesi. Dan tidak semua orang bisa menyatukan diri dengan dunia tulis-menulis, garang-mengarang. Faktanya memang demikian.
Coba kita baca rubrik opini surat kabar, majalah, buletin, atau blog online atau apalah namanya. Adakanya, tulisan seorang profesor, doktor, magister bisa bersangding dengan tulisan seorang mahasiswa bahkan seorang pelajar tingkat SLTA.
Banyak orang menyebutkan bahwa dunia tulis-menulis atau garang-mengarang adalah dunia yang unik. Dunia ini tidak terikat oleh tahta, gelar, ijazah dan lain sebagainya. Dunia tulis-menulis, garang-megarang hanya terikat pada mutu dan hasil.
Siapa saja, bila sudah terpaut hati dan cinta pada dunia tulis-menulis, garang-mengarang. Akan susah menceraikannya. Dan cintanya, tidak terbatas oleh usia. Selama otak masih bisa berfikir, mata masih bisa membaca, tangan masih bisa bergerak maka selamanya seseorang penulis bisa berkarya.
"Hanya dua orang yang bisa menghentikan dunia penulisan, yaitu Tuhan dan dirinya".
Kembali kepada judul kita. "Ketika, Penulis Jenuh dan Bosan Menulis"..
Pada dasarnya kejenuhan dan bosan adalah momen yang pasti akan dilalui oleh setia manusia. Baik itu kejenuhan dalam bekerja, belajar, bekerja, dan aktivitas-aktivitas lainnya.
Kejenuhan dan bosan juga sering menimpa seorang blogger. Lebih-lebih jika tulisan yang dibaca, entah itu dari media online maupun cetak, bobotnya jauh lebih dahsyat dan tajam analisis seorang blogger.
Situasi seperti itu seringkali menimpa saya, sebagai blogger pemula. Pada saat-saat tertentu, saya benar-benar berada di titik kulminasi kejenuhan dan kebosanan. Biarpun ada ide, tapi saya tidak tahu tulisan macam apa yang mesti saya angkat menjadi sebuah postingan menarik dan layak untuk dibaca.
Sehingga blog gampong kita, yang sedang Anda baca ini tidak banyak postingan orisinir menarik. Kecuali, beberapa postingan saja yang saya kutip dari media lain. "Inilah ujung dari kejenuhan dan kebosanan".
Apalagi untuk meng-update postingan orisinir di blog, jelas berbeda dengan meng-update status di sebuah jejaring sosial seperti di google+, facebook, twitter, dan jejaring sosial lainnya. Karena postingan di blog seringkali membutuhkan kedalaman analisis, kepekaan intuitif, bahkan juga sentuhan kreativitas dan imajinasi sesuai dengan tema postingan yang diangkat kedunia maya.
Posting blog, sungguh berbeda ketika seseorang meng-update status di jejaring sosial. Di jejaring sosial, tidak harus melalui proses yang terlalu rumit dan panjang. Ketika seseorang sedang buang taik, baru bangun tidur, sambil menguap, sambil makan sudah cukup waktu bagi seseorang untuk mengetikkan beberapa pesan untuk dibagi kemuka akun jejaring sosialnya.
Karena kemudahan dalam meng-update status, banyak orang ingin berlomba-lomba memamerkan statusnya di jejaring sosial. Bahkan, blogger yang notabene sudah memiliki “jam terbang” cukup lumayan akhirnya bisa tenggelam kedalam wabah jejaring sosial ketika berada di titik kejenuhan dan kebosanan.
Namun, buat blogger amatiran seperti saya, “penyakit” semacam itu seringkali datang tak terduga. Saya pernah diajarkan orang, bahwa setiap masalah ada solusinya. Teruslah berjuang, dan jangan galau.....
Pesan guru saya, jika kamu memiliki bakat menulis, menulislah sampai tiba datangnya Malaikat Izrail dan berhentinya aktivitas dunia, ketika Malaikat Israfil meniupkan sangkakala.
Jampok ke-7 "Jangan Tergoda Keputusasaan"
Ketika, Penulis Jenuh dan Bosan Menulis
Reviewed by Sumadi Arsyah
on
05:09
Rating:
Reviewed by Sumadi Arsyah
on
05:09
Rating:
